Jumat, 24 Maret 2017

DAMPAK INFLASI TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN

ABSTRAK
Inflasi merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari
harga – harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian
besar dari barang – barang lain. (Boediono.1995). Lonjakan terhadap inflasi nasional yang tanpa diimbangi dengan pendapatan nominal penduduk akan menyebabkan pendapatan rakyat merosot baik pendapatan riil maupun pendapatan perkapita. Ini menjadikan Indonesia kembali masuk golongan Negara miskin, dan ini menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat khususnya strata ekonomi bawah. Karena begitu dahsatnya pengaruh inflasi di Indonesia terhadap perekonomian nasional, maka
perlu perhatian yang ekstra terhadap inflasi agar krisis ekonomi tahun 1998 tidak terulang lagi.











PENDAHULUAN


Inflasi merupakan suatu fenomena ekonomi yang sangat menarik untuk
dibahas terutama yang berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat balas jasa yang riil terhadap asset finansial domestik semakin rendah (bahkan seringkali negatif ), sehingga dapat mengganggu mobilisasi dan domestik dan bahkan dapat mengurangi tabungan domestik yang menjadi sumber dana investasi. Kedua, dapat menyebabkan daya saing barang ekspor berkurang dan dapat menimbulkan defesit dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan hutang luar negeri. Ketiga, inflasi dapat memperburuk distribusi pendapatan dengan terjadinya transfer sumberdaya dari konsumen dan golongan berpenghasilan tetap kepada produsen. Keempat, inflasi yang tinggi dapat mendorong terjadinya pelarian modal keluar negeri. Kelima, inflasi yang tinggi akan dapat mennyebabkan kenaikan tingkat bunga nominal yang dapat mengganggu tingkat investasi yang dibutuhkan untuk memacu tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu (Hera Susanti et all,1995). Lonjakan terhadap inflasi nasional yang tanpa diimbangi dengan pendapatan nominal penduduk akan menyebabkanpendapatan rakyat merosot baik pendapatan riil maupun pendapatan perkapita.
Ini menjadikan Indonesia kembali masuk golongan Negara miskin, dan ini menyebabkan semakin beratnya beban hidup masyarakat khususnya strata ekonomi bawah. Karena begitu dahsatnya pengaruh inflasi di Indonesia terhadap perekonomian nasional, maka perlu perhatian yang ekstra terhadap inflasi agar krisis ekonomi tahun 1998 tidak terulang lagi.

Pengertian Inflasi

Dalam ilmu ekonomi, inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga
-harga secara umum dan terus-menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, likuiditasyang tinggi dipasar yang memicu konsumsi bahkan spekulasi, termasuk akibat tidak lancarnya pendistribusian barang. Dengan kata lain inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinyu. Inflasi adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi.Menurut Samuelson (2004:306) inflasi merupakan masalah utama di banyak negara berkembang dan menjadi pertanda bagi negara-negara sosialis untuk melakukan perubahan yang mengarah ke pasar seperti Polandia dan Yugoslavia. Samuelson menyatakan bahwa inflasi merupakan kenaikan dalam tingkat harga umum. Laju inflasi adalah tingkat perubahan tingkat harga umum dan diukur dengan:

Laju inflasi (tahun t)= Tingkat harga (tahun t)-Tingkat harga tahun t-1x 100%
Tingkat harga (tahun t-1)

Indriyono (2008:305) inflasi diartikan sebagai penurunan yang tajam terhadap nilai uang dari suatu negara yang mengakibatkn terjadinya kenaikan tingkat harga-harga dengan cepat.Menurut Parkin dan Bade(dalam antonius:2013)
inflasi adalah pergerakan ke arah atas dari tingkatan harga. Secara mendasar ini berhubungan dengan harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa banyaknya uang (rupiah) untuk memperoleh barang tersebut.Rahardja (dalam Antonius: 2013) inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, tetapi jika kenaikan meluas kepada sebagian besar harga barang-barang maka hal ini disebut inflasi. Eachern (2000: 133) menyatakan bahwa inflasi adalah kenaikan terus menerus dalam rata-rata tingkat harga. Jika tingkat harga berfluktuasi, bulan ini naik dan bulan depan turun, setiap adanya kenaikan tidak berarti sebagai inflasi.
Badan Pusat Statistik (2000: 10) mendefinisikan inflasi sebagai salah satu indikator untuk melihat stabilitas ekonomi suatu wilayah atau daerah yang menunjukkan perkembangan harga barang dan jasa secara umum yang dihitung dari indeks harga konsumen. Dengan demikian angka inflasi sangat mempengaruhi daya beli masyarakat yang berpenghasilan tetap, dan di sisi lain juga mempengaruhi besarnya produksi barang.Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan diatas dapat dikatakan bahwa secara umum inflasi adalah suatu gejala naiknya harga secara terus-menerus terhadap sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya sementara tidak dikatakan inflasi
dan kenaikan harga terhadap satu jenis komoditi juga tidak dikatakan inflasi.
Inflasi merupakan kenaikan harga-harga umum secara berkelanjutan, yang merupakan salah satu variabel ekonomi makro yang penting, karena dapat mempengaruhi kesejahteraan penduduk suatu negara. Inflasi yang tinggi mengimplikasikan penurunan daya beli sehinggga kemampuan masyarakat untuk menikmati barang dan jasa semakin berkurang, dengan kata lain kemakmuran berkurang.
 Jadi ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, menurut Prathama dan Mandala (2001:203) adalah:
1.    Kenaikan harga, harga suatu komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih
tinggi dari harga periode sebelumnya.

2.    Bersifat umum, kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga secara umum naik.

3.    berlangsung terus menerus, kenaikan harga yang bersifat umum juga belum
akan memunculkan inflasi jika terjadi sesaat, karena itu perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.


Jenis-jenis inflasi

Inflasi memiliki beberapa tingkat kejadian yang berbeda. Samuelson dan
Nordhaus (2004:311) mengklasifikasikaninflasi ke dalam tiga kategori:
1.    inflasi moderat (moderatinflation) yaitu:
inflasi yang ditandai dengan harga-harga yang meningkat secara lambat, dapat dikatakan sebagai laju inflasi satu digit per tahun. Jika harga relatif stabil masyarakat percaya pada uang sehingga mereka bersedia memegang uang karena uang akan hampir sama nilainya pada bulan atau tahun mendatang.
2.    inflasi ganas galloping inflation) yaitu:
 inflasi dua atau tiga digit seperti 20% atau 100% per tahun. Jika inflasi ini timbulmaka mengakibatkan gangguan yang serius terhadap perkekonomian. Biasanya sebagian besar kontrak disusun dalam mata uang asing seperti dolar. Dalam kondisi ini uang kehilangan nilainya dengan cepat, konsekuensinya masyarakat hanya memegang jumlah uang yang minimum yang diperlukan untuk transaksi harian.
3.    Hiperinflasi(hyper inflation), jenis inflasi ini adalah:
 inflasi yang sangat mematikan, hal ini ditandai dengan inflasi yang tinggi di atas 100%, dimana kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam jangka waktu yang singkat, keadaan seperti ini orang-orang sudah tidak percaya pada mata uang. Nilai nominal uang jadi tidak berharga,jika situasi ini terjadi maka pemerintah melakukan Senering yaitu pemotongan nilai uang.

Faktor -faktor yang mempengaruhi Inflasi

Gitosudarmo (2000:305), mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi:
1. DemandPull Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh tarikan dari adanya permintaan yang semakin meningkat. Apabila permintaaan terhadap barang dan jasa melebihi penawaran yang ada maka potensi permintaan tersebut akan menarik harga ke atas.
 2. Cost PushInflation or Supply Shock Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan dorongan dari naiknya biaya untuk memproduksi barang maupun jasa. Apabila biaya naik maka akan mendorong untuknaiknya harga karena harga yang ditetapkan harus dapat menutup biaya dan laba yang  diharapkan. Disamping itu inflasi dapat juga terjadi akibat dari kenaikan harga-harga barang yang diimpor, penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti pertambahan produksi dan penawaran barang serta kekacauan politik dan ekonomi sebagai akibat pemerintah yang kurang bertanggung jawab.Akibat-
akibat buruk dari inflasi beragam seperti pengangguran yang kian bertambah, menurunkan taraf kemakmuran masyarakat dimana upah riil para pekerjaakan merosot sehingga taraf hidupnya pun akan menurun. Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang akan menjadi semakin memburuk jika inflasi tidak dapat dikendalikan.Inflasi yang bertambah serius tersebut cenderung akan mengurangi investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan menaikan impor. Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Adakalanya tingkat inflasi meningkat dengan tiba-tiba sebagai akibat suatu peristiwa tertentu ang berlaku diluar ekspektasi pemerintah,misalnya depresiasi nilai uang yang sangat besar atau keadaan politik yang tidak stabil.



Dampak Inflasi

1. Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif-tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat.
Para penerima pendapatan tetap seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

2. Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan terdorong untuk melipat gandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan bila tidak sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut, hal ini biasanya terjadi pada pengusaha kecil.

3. Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.



KESIMPULAN DAN SARAN


Inflasi merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam segi perekonomian  keuangan perusaahaan maupun Negara.
Dampaknya apabila inflasi  terlalu tinggi maka perekonomian menjadi kacau dan terlalu rendah akan mempengaruhi juga tingkat perekonomian maka dari itu inflasi harus stabil (ringan), dengan ringannya inflasi menimbulkan keinginan untuk mengadakan investasi bekerja serta menabung dan lain-lain.


Boediono.1995. “Ekonomi Moneter”.Edisi 3. Yogyakarta : BPFE UGM.


Jurnal Riset Akuntansi–Volume VI / No.2 / Oktober 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar