ABSTRAK
Inflasi
merupakan salah satu peristiwa moneter yang sangat penting dan dijumpai di
hampir semua Negara di dunia. Inflasi adalah kecenderungan dari
harga
– harga untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu
atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali bila kenaikan
tersebut meluas kepada atau mengakibatkan kenaikan sebagian
besar
dari barang – barang lain. (Boediono.1995). Lonjakan terhadap inflasi nasional
yang tanpa diimbangi dengan pendapatan nominal penduduk akan menyebabkan
pendapatan rakyat merosot baik pendapatan riil maupun pendapatan perkapita. Ini
menjadikan Indonesia kembali masuk golongan Negara miskin, dan ini menyebabkan
semakin beratnya beban hidup masyarakat khususnya strata ekonomi bawah. Karena
begitu dahsatnya pengaruh inflasi di Indonesia terhadap perekonomian nasional,
maka
perlu
perhatian yang ekstra terhadap inflasi agar krisis ekonomi tahun 1998 tidak
terulang lagi.
PENDAHULUAN
Inflasi
merupakan suatu fenomena ekonomi yang sangat menarik untuk
dibahas
terutama yang berkaitan dengan dampaknya yang luas terhadap agregat makro
ekonomi. Pertama, inflasi domestik yang tinggi menyebabkan tingkat balas jasa
yang riil terhadap asset finansial domestik semakin rendah (bahkan seringkali
negatif ), sehingga dapat mengganggu mobilisasi dan domestik dan bahkan dapat
mengurangi tabungan domestik yang menjadi sumber dana investasi. Kedua, dapat
menyebabkan daya saing barang ekspor berkurang dan dapat menimbulkan defesit
dalam transaksi berjalan dan sekaligus dapat meningkatkan hutang luar negeri.
Ketiga, inflasi dapat memperburuk distribusi pendapatan dengan terjadinya
transfer sumberdaya dari konsumen dan golongan berpenghasilan tetap kepada produsen.
Keempat, inflasi yang tinggi dapat mendorong terjadinya pelarian modal keluar
negeri. Kelima, inflasi yang tinggi akan dapat mennyebabkan kenaikan tingkat
bunga nominal yang dapat mengganggu tingkat investasi yang dibutuhkan untuk
memacu tingkat pertumbuhan ekonomi tertentu (Hera Susanti et all,1995).
Lonjakan terhadap inflasi nasional yang tanpa diimbangi dengan pendapatan
nominal penduduk akan menyebabkanpendapatan rakyat merosot baik pendapatan riil
maupun pendapatan perkapita.
Ini
menjadikan Indonesia kembali masuk golongan Negara miskin, dan ini menyebabkan
semakin beratnya beban hidup masyarakat khususnya strata ekonomi bawah. Karena
begitu dahsatnya pengaruh inflasi di Indonesia terhadap perekonomian nasional,
maka perlu perhatian yang ekstra terhadap inflasi agar krisis ekonomi tahun
1998 tidak terulang lagi.
Pengertian Inflasi
Dalam
ilmu ekonomi, inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga
-harga
secara umum dan terus-menerus yang berkaitan dengan mekanisme pasar yang
disebabkan oleh berbagai faktor antara lain, konsumsi masyarakat yang
meningkat, likuiditasyang tinggi dipasar yang memicu konsumsi bahkan spekulasi,
termasuk akibat tidak lancarnya pendistribusian barang. Dengan kata lain
inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinyu. Inflasi
adalah proses dari suatu peristiwa, bukan tinggi rendahnya tingkat harga.
Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan
inflasi.Menurut Samuelson (2004:306) inflasi merupakan masalah utama di banyak
negara berkembang dan menjadi pertanda bagi negara-negara sosialis untuk
melakukan perubahan yang mengarah ke pasar seperti Polandia dan Yugoslavia.
Samuelson menyatakan bahwa inflasi merupakan kenaikan dalam tingkat harga umum.
Laju inflasi adalah tingkat perubahan tingkat harga umum dan diukur dengan:
Laju inflasi (tahun t)= Tingkat harga (tahun t)-Tingkat
harga tahun t-1x 100%
Tingkat harga (tahun t-1)
Indriyono
(2008:305) inflasi diartikan sebagai penurunan yang tajam terhadap nilai uang
dari suatu negara yang mengakibatkn terjadinya kenaikan tingkat harga-harga
dengan cepat.Menurut Parkin dan Bade(dalam antonius:2013)
inflasi
adalah pergerakan ke arah atas dari tingkatan harga. Secara mendasar ini
berhubungan dengan harga, hal ini bisa juga disebut dengan berapa banyaknya
uang (rupiah) untuk memperoleh barang tersebut.Rahardja (dalam Antonius: 2013) inflasi
adalah kecenderungan dari harga-harga untuk meningkat secara umum dan
terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut
inflasi, tetapi jika kenaikan meluas kepada sebagian besar harga barang-barang
maka hal ini disebut inflasi. Eachern (2000: 133) menyatakan bahwa inflasi
adalah kenaikan terus menerus dalam rata-rata tingkat harga. Jika tingkat harga
berfluktuasi, bulan ini naik dan bulan depan turun, setiap adanya kenaikan
tidak berarti sebagai inflasi.
Badan
Pusat Statistik (2000: 10) mendefinisikan inflasi sebagai salah satu indikator
untuk melihat stabilitas ekonomi suatu wilayah atau daerah yang menunjukkan
perkembangan harga barang dan jasa secara umum yang dihitung dari indeks harga
konsumen. Dengan demikian angka inflasi sangat mempengaruhi daya beli
masyarakat yang berpenghasilan tetap, dan di sisi lain juga mempengaruhi
besarnya produksi barang.Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan diatas
dapat dikatakan bahwa secara umum inflasi adalah suatu gejala naiknya harga
secara terus-menerus terhadap sejumlah barang. Kenaikan yang sifatnya sementara
tidak dikatakan inflasi
dan
kenaikan harga terhadap satu jenis komoditi juga tidak dikatakan inflasi.
Inflasi
merupakan kenaikan harga-harga umum secara berkelanjutan, yang merupakan salah
satu variabel ekonomi makro yang penting, karena dapat mempengaruhi
kesejahteraan penduduk suatu negara. Inflasi yang tinggi mengimplikasikan
penurunan daya beli sehinggga kemampuan masyarakat untuk menikmati barang dan
jasa semakin berkurang, dengan kata lain kemakmuran berkurang.
Jadi ada tiga komponen yang harus dipenuhi
agar dapat dikatakan telah terjadi inflasi, menurut Prathama dan Mandala
(2001:203) adalah:
1. Kenaikan harga, harga suatu
komoditas dikatakan naik jika menjadi lebih
tinggi
dari harga periode sebelumnya.
2. Bersifat umum, kenaikan harga suatu komoditas
belum dapat dikatakan inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga
secara umum naik.
3. berlangsung terus menerus, kenaikan
harga yang bersifat umum juga belum
akan
memunculkan inflasi jika terjadi sesaat, karena itu perhitungan inflasi
dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan.
Jenis-jenis inflasi
Inflasi
memiliki beberapa tingkat kejadian yang berbeda. Samuelson dan
Nordhaus
(2004:311) mengklasifikasikaninflasi ke dalam tiga kategori:
1.
inflasi
moderat (moderatinflation) yaitu:
inflasi
yang ditandai dengan harga-harga yang meningkat secara lambat, dapat dikatakan
sebagai laju inflasi satu digit per tahun. Jika harga relatif stabil masyarakat
percaya pada uang sehingga mereka bersedia memegang uang karena uang akan
hampir sama nilainya pada bulan atau tahun mendatang.
2.
inflasi
ganas galloping inflation) yaitu:
inflasi dua atau tiga digit seperti 20% atau 100%
per tahun. Jika inflasi ini timbulmaka mengakibatkan gangguan yang serius
terhadap perkekonomian. Biasanya sebagian besar kontrak disusun dalam mata uang
asing seperti dolar. Dalam kondisi ini uang kehilangan nilainya dengan cepat,
konsekuensinya masyarakat hanya memegang jumlah uang yang minimum yang
diperlukan untuk transaksi harian.
3.
Hiperinflasi(hyper
inflation), jenis inflasi ini adalah:
inflasi yang sangat mematikan, hal ini
ditandai dengan inflasi yang tinggi di atas 100%, dimana kenaikan harga-harga
yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa
kali lipat dalam jangka waktu yang singkat, keadaan seperti ini orang-orang
sudah tidak percaya pada mata uang. Nilai nominal uang jadi tidak berharga,jika
situasi ini terjadi maka pemerintah melakukan Senering yaitu pemotongan nilai
uang.
Faktor -faktor yang mempengaruhi
Inflasi
Gitosudarmo
(2000:305), mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya inflasi:
1.
DemandPull Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh tarikan dari adanya
permintaan yang semakin meningkat. Apabila permintaaan terhadap barang dan jasa
melebihi penawaran yang ada maka potensi permintaan tersebut akan menarik harga
ke atas.
2. Cost PushInflation or Supply Shock
Inflation, yaitu inflasi yang disebabkan dorongan dari naiknya biaya untuk
memproduksi barang maupun jasa. Apabila biaya naik maka akan mendorong
untuknaiknya harga karena harga yang ditetapkan harus dapat menutup biaya dan
laba yang diharapkan. Disamping itu
inflasi dapat juga terjadi akibat dari kenaikan harga-harga barang yang
diimpor, penambahan penawaran uang yang berlebihan tanpa diikuti pertambahan
produksi dan penawaran barang serta kekacauan politik dan ekonomi sebagai
akibat pemerintah yang kurang bertanggung jawab.Akibat-
akibat
buruk dari inflasi beragam seperti pengangguran yang kian bertambah, menurunkan
taraf kemakmuran masyarakat dimana upah riil para pekerjaakan merosot sehingga
taraf hidupnya pun akan menurun. Prospek pembangunan ekonomi jangka panjang
akan menjadi semakin memburuk jika inflasi tidak dapat dikendalikan.Inflasi
yang bertambah serius tersebut cenderung akan mengurangi investasi yang produktif,
mengurangi ekspor dan menaikan impor. Kecenderungan ini akan memperlambat
pertumbuhan ekonomi. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar
tingkat inflasi yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Adakalanya
tingkat inflasi meningkat dengan tiba-tiba sebagai akibat suatu peristiwa
tertentu ang berlaku diluar ekspektasi pemerintah,misalnya depresiasi nilai
uang yang sangat besar atau keadaan politik yang tidak stabil.
Dampak
Inflasi
1.
Inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif-tergantung parah atau
tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang
positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan
pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung dan
mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada
saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi), keadaan perekonomian
menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu. Orang menjadi tidak bersemangat
kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat
dengan cepat.
Para penerima pendapatan tetap
seperti pegawai negeri atau karyawan swasta serta kaum buruh juga akan
kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi
semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.
2. Bagi
produsen, inflasi dapat menguntungkan bila pendapatan yang diperoleh lebih
tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Bila hal ini terjadi, produsen akan
terdorong untuk melipat gandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha
besar). Namun, bila inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada
akhirnya merugikan produsen, maka produsen enggan untuk meneruskan produksinya.
Produsen bisa menghentikan produksinya untuk sementara waktu. Bahkan bila tidak
sanggup mengikuti laju inflasi, usaha produsen tersebut mungkin akan bangkrut,
hal ini biasanya terjadi pada pengusaha kecil.
3.
Secara umum, inflasi dapat mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara,
mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat
spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit
neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan
masyarakat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Inflasi
merupakan hal yang sangat berpengaruh dalam segi perekonomian keuangan perusaahaan maupun Negara.
Dampaknya apabila inflasi terlalu tinggi maka perekonomian menjadi
kacau dan terlalu rendah akan mempengaruhi juga tingkat perekonomian maka dari
itu inflasi harus stabil (ringan), dengan ringannya inflasi menimbulkan
keinginan untuk mengadakan investasi bekerja serta menabung dan lain-lain.
Boediono.1995. “Ekonomi Moneter”.Edisi 3. Yogyakarta : BPFE
UGM.
Jurnal
Riset Akuntansi–Volume VI / No.2 / Oktober 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar